DEPOK | suaradepok.com— Aula pelantikan masih menyisakan riuh rendah ucapan selamat saat Yodi Joko Bintoro melangkah keluar dengan seragam barunya. Resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok pada Senin (25/5/2026), pundaknya kini resmi memangku salah satu urusan paling krusial di kota ini seperti infrastruktur dan kemacetan.
Namun, alih-alih tampak tegang menghadapi segudang persoalan yang menanti, wajah Yodi justru memancarkan ketenangan yang penuh optimisme. Bagi Yodi, jabatan baru ini bukanlah sekadar anak tangga karier, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang harus ditunaikan.
Arahan dari Wali Kota Depok tertanam jelas di benaknya. Ia memandang momentum pelantikan ini sebagai sebuah amanah personal sekaligus institusional yang wajib dijawab dengan kerja nyata yang transparan dan akuntabel.
Meski begitu, jalan yang harus ditempuh Yodi tidaklah bertabur bunga. Tantangan besar langsung menghadang di hari pertamanya menjabat. Seperti yang sempat disinggung oleh Kepala BKPSDM, Pak Edi, angin efisiensi anggaran tengah berembus kencang di lingkungan Pemerintah Kota Depok.
Dinas PUPR yang biasanya membutuhkan ruang fiskal besar untuk pembangunan fisik, kini harus memutar otak agar pelayanan publik tidak kendor di tengah keterbatasan dana.
“Di balik efisiensi ini, kita bisa memaksimalkan bagaimana pemeliharaan jalannya. Tidak boleh pesimis. Tetap optimis, tetap optimis! Jadi, di tengah efisiensi, jalan makin panjang, jalan yang dipelihara makin banyak,” ungkap Yodi Joko Bintoro usai dilantik.
Ironi manis memang sedang terjadi di Depok. Di satu sisi anggaran harus diefisiensikan, namun di sisi lain, tanggung jawab wilayah Dinas PUPR justru makin meluas. Yodi memaparkan bahwa sejumlah jalur protokol strategis seperti Jalan Juanda, Margonda, Arif Rahman Hakim, Nusantara, hingga kawasan Sawangan kini statusnya telah resmi diserahterimakan dari pusat/provinsi kepada pengelolaan Pemerintah Kota Depok. Artinya, bentangan aspal yang harus dirawat kini semakin panjang.
Menyiasati hal tersebut, Yodi mengaku tidak mau menyerah pada keadaan dan siap meracik skema-skema baru yang kreatif untuk pemeliharaan jalan berkala. Bukan hanya bertahan, Yodi bahkan sudah bersiap tancap gas dengan sederet program prioritas Wali Kota yang telah terjadwal ketat.
Direncanakan pada awal Juni mendatang, PUPR akan segera memulai langkah besar berupa groundbreaking proyek Jalan Enggram. Tak hanya itu, penyelesaian akses Sawangan Pasir Putih dan Sawangan Sukamaju juga masuk dalam daftar mendesak, disusul rencana pelebaran Simpang Parung Bingung yang pembebasan lahannya sedang digeber tahun ini. Melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT), penataan juga diarahkan langsung ke titik-titik krusial seperti Cimayung, Cinere, serta antisipasi ke depan untuk area Sawangan Permai dan Sawangan Village.
Lebih jauh lagi, proyek mercusuar pemecah kemacetan berupa flyover Margonda baru sudah mengantongi hasil Feasibility Study (FS) dari Bappeda. Tahapannya akan bergerak rigid dari penentuan basic design, Manajemen Konstruksi (MK), hingga target lelang di akhir tahun sekitar bulan November atau Desember nanti.
Ketika ditanya mengenai momok terbesar warga Depok yaitu kemacetan dan pemenuhan janji-janji politik Wali Kota, Yodi menjawabnya tanpa keraguan. Baginya, kunci utama adalah ketepatan eksekusi dan integritas.
“Insyaallah. Tugas saya di sana memastikan semuanya tepat waktu, tepat guna, transparansi terjaga, dan akuntabilitas juga terjaga,” pungkas Yodi.
Warga Depok kini menanti, bagaimana sang nahkoda baru PUPR ini akan mengalirkan optimisme tersebut ke dalam aspal dan jalanan kota yang lebih lancar. (Guntur Bulan)



