DEPOK | suaradepok.com— Di tengah gempuran croissant Prancis yang renyah, cheesecake lumer khas Jepang, dan deretan pencuci mulut kekinian yang silih berganti membanjiri linimasa, eksistensi kue tradisional acapkali tersisih ke sudut sunyi memori masa kecil. Namun, di tangan dingin mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat, Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, jajanan pasar ini justru bertransformasi, menemukan ruh baru, dan merebut panggung digitalnya sendiri.
Melalui pergelaran tahunan Vokhumfest 2026 yang dihelat pada 21 Mei 2026 di kampus Vokasi UI, Depok, sebuah misi sosial kemasyarakatan dijalankan. Para mahasiswa turun tangan langsung mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal agar tidak gagap teknologi dan mampu bersaing di tengah dinamika tren kuliner modern. Salah satu kisah sukses yang memikat perhatian adalah metamorfosis digital dari Thingkue, lini usaha kue tradisional dan snack box rumahan milik Tating Subarti.
Thingkue selama ini dikenal setia merawat cita rasa autentik dengan tagline yang sarat nostalgia: “Enaknya Bikin Kangen”. Dari dapur rumahannya, Tating meracik aneka kudapan tradisional dengan sentuhan homemade berkualitas tinggi yang karib dengan kenangan masa kecil. Sayangnya, kualitas rasa yang prima ini sempat terperangkap dalam keterbatasan ruang promosi. Seperti kebanyakan pelaku usaha konvensional, Tating begitu fokus menjaga kesegaran bahan baku dan kelezatan produk, hingga melupakan bahwa dunia luar telah berpindah ke dalam genggaman layar ponsel.
”Selama ini saya fokus menjaga rasa dan kualitas produk, tetapi belum terlalu memahami pentingnya promosi digital. Lewat pendampingan ini, saya jadi belajar bagaimana memperkenalkan usaha melalui media sosial dan membangun citra merek (branding) yang lebih menarik,” tutur Tating Subarti dengan mata berbinar, Minggu, (24/5/2026).
Kesenjangan inilah yang kemudian dijembatani oleh barisan mahasiswa Humas Vokasi UI. Sultan Rayya, selaku mahasiswa pendamping UMKM, memaparkan bahwa langkah awal mereka adalah membangun identitas digital (digital presence) Thingkue yang kokoh agar mampu memikat perhatian generasi muda (Gen Z). Rangkaian edukasi dilakukan secara berkala dan intim, mulai dari merumuskan strategi komunikasi digital, memoles estetika visual konten media sosial, hingga menyusun identitas merek (branding identity) yang relevan dengan selera pasar hari ini.
Kerja keras dan kolaborasi lintas generasi ini membuahkan hasil yang di luar ekspektasi. Sentuhan magis strategi komunikasi digital bentukan mahasiswa mampu mendongkrak interaksi akun media sosial Thingkue secara drastis dalam waktu singkat. Angka di layar analitik berbicara nyata: jumlah tayangan unggahan (post views) melonjak tajam hingga 445,22%, disusul dengan peningkatan kunjungan profil (profile visit) yang meroket sebesar 678,8%.
Lonjakan statistik ini bukan sekadar barisan angka tanpa makna di atas kertas, melainkan bukti otentik bahwa Gen Z dan masyarakat luas sebenarnya memendam rindu yang besar terhadap kehadiran kue-kue tradisional di ruang publik digital mereka. Ketika jajanan pasar dikemas secara apik dan dikomunikasikan secara presisi, ia tidak kalah seksi dibanding kuliner modern impor manapun.
”Banyak UMKM sebenarnya punya produk yang bagus, tetapi belum memiliki identitas digital (digital presence) yang kuat. Melalui pendampingan ini, kami ingin membantu UMKM seperti Thingkue agar lebih dikenal masyarakat luas dan mampu mengikuti perkembangan digital saat ini,” jelas Sultan Rayya penuh optimisme.
Melalui momentum Vokhumfest 2026, kolaborasi manis antara kaum akademis muda dan penggiat kuliner lokal ini menaruh secercah harapan besar bagi ketahanan budaya lokal. Thingkue kini telah resmi ‘naik kelas’. Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di era digital yang serba cepat, warisan rasa masa lalu tidak perlu punah digilas zaman; ia hanya butuh sebuah etalase digital baru yang tepat untuk kembali dicintai dan dirindukan. (***)



