DEPOK | suaradepok.com — Sebuah ikatan emosional dan profesional yang unik terjalin di lingkungan Universitas Indonesia. Binderku MHA, sebuah lini usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) alat tulis yang lahir dari rahim perjuangan seorang mahasiswi, kini kembali ke almamaternya. Namun, kali ini bukan untuk belajar di kelas, melainkan sebagai mitra strategis dalam program pengabdian masyarakat yang digagas oleh junior-juniornya di Program Studi Hubungan Masyarakat, Pendidikan Vokasi UI.
Roda kehidupan berputar, begitu pula dengan perjalanan sebuah bisnis. Binderku MHA yang memfokuskan diri pada produk binder, didirikan oleh Ibu Fitriyah saat ia masih berstatus sebagai mahasiswi aktif di Universitas Indonesia. Menoleh ke belakang, perjalanan usaha ini tidaklah instan. Memulai langkah dengan keterbatasan modal yang mencekik, Fitriyah harus memutar otak dengan menjadi perantara, menjual produk milik orang lain terlebih dahulu demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Berkat ketekunan dan konsistensi yang tanpa batas, Binderku MHA perlahan bermutasi. Usaha kecil ini tidak lagi sekadar mendistribusikan barang orang lain, melainkan telah bertransformasi menjadi produsen mandiri. Bahkan, produk-produk buatan mereka kini telah mengantongi sertifikasi resmi—sebuah pencapaian besar yang membanggakan bagi skala industri rumahan.
Namun, di era digital yang bergerak begitu cepat, memproduksi barang berkualitas saja tidak lagi cukup. Pelaku usaha kini dituntut memiliki napas yang panjang dan keahlian dinamis dalam mengelola komunikasi digital. Di sinilah sinergi akademis itu hadir mengisi ruang kosong.
Mahasiswa Humas Vokasi UI, di bawah bimbingan dan arahan langsung dari para dosen, merancang program pendampingan intensif yang membumi dan aplikatif, sesuai dengan tantangan nyata yang dihadapi di lapangan.
“Sejauh ini, mahasiswa prodi Humas Vokasi UI sangat membantu UMKM saya terutama dalam pengelolaan media sosial. Sebelumnya, saya yang tidak fokus mengurus media sosial kini dapat mengaktifkan kembali akun media sosial UMKM saya,” ungkap Ibu Fitriyah, Kamis, (21/5/2026).
Melalui sentuhan kreativitas para mahasiswa, Binderku MHA mendapatkan suntikan energi baru. Strategi komunikasi disusun ulang, identitas merek (*branding*) diperkuat, dan kanal-kanal media sosial yang sempat pasif serta berdebu mulai kembali berdenyut guna menggapai pasar yang lebih luas. Program ini berhasil meruntuhkan sekat teoritis perkuliahan, mengubah lembar-lembar diktat menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada eksistensi digital sang mitra.
Bagi para mahasiswa, program pengabdian masyarakat ini melampaui sekadar pemenuhan tugas kuliah berbasis praktik. Terjun langsung menghadapi dinamika dunia usaha memberikan mereka kacamata realitas yang tidak ditemukan di dalam ruang seminar. Di bawah supervisi ketat para dosen, mereka belajar mendengarkan keluhan mitra, memetakan masalah emosional konsumen, dan mengeksekusi solusi komunikasi secara presisi.
Meski membuahkan hasil positif, Fitriyah mengakui bahwa proses pendampingan ini tetap menyisakan ruang untuk evaluasi bersama demi hasil yang lebih sempurna di masa depan. Ia menaruh harapan besar agar program pengabdian masyarakat berbasis keilmuan humas ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan mampu menjangkau dan menyelamatkan lebih banyak pelaku UMKM lain yang tengah berjuang sendirian di luar sana.
Kolaborasi manis antara Binderku MHA, mahasiswa, dan dosen Vokasi UI ini menjadi sebuah potret ideal mengenai bagaimana sebuah institusi pendidikan tinggi seharusnya bekerja. Bukan menjadi menara gading yang menjulang tinggi secara teoritis, melainkan menjadi jembatan dan roda penggerak yang secara nyata menyokong pemberdayaan ekonomi masyarakat dari lini paling mendasar. (***)



