suaradepok.com | DEPOK– Ketua Panitia Lebaran Depok, H. Hamzah, menegaskan bahwa kehadiran deretan artis ibu kota dalam perhelatan Lebaran Depok tahun ini sama sekali tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok. Hal ini disampaikan guna memberikan klarifikasi agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di masyarakat.
Hamzah menjelaskan bahwa biaya untuk mendatangkan artis-artis besar merupakan hasil kolaborasi dan dukungan dari pihak swasta melalui skema sponsorship. Artinya, seluruh biaya hiburan berasal dari sponsor yang memiliki kedekatan dengan panitia.
“Dan untuk menghibur masyarakat Depok, kita hadirkan artis-artis ibu kota yang anggarannya tidak memakai anggaran APBD sama sekali. Semuanya adalah sponsor dari teman-teman yang dekat dengan saya, dengan panitia, untuk sponsorship menghadirkan artis-artis ibu kota. Seperak pun tidak dari APBD, boleh dicek dan boleh diaudit,” Kata Hamzah, Rabu, (15/4/2026) sekretariat PWI Kota Depok.
Hamzah menyatakan bahwa penggunaan anggaran tersebut dapat dicek dan diaudit untuk membuktikan akuntabilitasnya. Artis dan grup musik seperti Wali Band, El Corona, hingga Familys dipastikan hadir tanpa menggunakan uang rakyat.
Menurut Hamzah, langkah ini diambil mengingat anggaran resmi untuk Lebaran Depok tergolong kecil. Panitia memilih untuk melakukan efisiensi dengan mengalokasikan dana APBD secara khusus untuk kegiatan yang bersifat pelestarian tradisi, bukan untuk hiburan komersial.
“Seperak pun tidak dari APBD, boleh dicek dan boleh diaudit. Karena efisiensi, anggaran untuk Lebaran Depok sangat kecil, dan itu difokuskan untuk pentas budaya,” ujar Hamzah
Lebaran Depok sendiri menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Depok yang ke-27. Meskipun menjadi satu rangkaian besar, Hamzah menekankan bahwa struktur kepanitiaan Lebaran Depok terpisah dari Panitia HUT Kota Depok.
“Sekarang Depok dengan kondisi yang sekarang ini sudah agak viral untuk Lebaran Depok, dan untuk menyambut dan ini menjadi rangkaian HUT Kota Depok yang ke-27. Biasanya setelah HUT Kota Depok, lalu seminggu kemudian baru Lebaran Depok. Ini menjadi rangkaian. Sementara puncak HUT Kota Depok itu tanggal 27 April, berada di GBI Bojongsari. Di sana ada KDM nanti, juga ada tampilan-tampilan. Jadi panitia HUT Kota Depok ke-27 dengan Lebaran Depok beda. Beda kepanitiaan,” jelas Hamzah.
Selain menghadirkan hiburan, acara ini tetap mengedepankan tradisi lokal seperti “Pasar Penghabisan”, “Kue Maleman”, dan tradisi “Rantangan” guna menjaga identitas budaya masyarakat Depok di tengah kemajuan zaman.
“Jadi kita pun ada nanti di GDC bikin pasar yang namanya Pasar Penghabisan dan Kue Maleman. Kue maleman ada dodol, ada geplak, ada uli, ada macam-macam, ada selendang mayang… semuanya itu kita hadirkan. Dulu orang Depok ya begitu. Jadi tradisi ini kita tidak hilangkan,” tutur Hamzah sambil bernostalgia. (Guntur Bulan)


