DEPOK |suaradepok.com – Belasan pelaksana konstruksi di Kota Depok mulai putus asa karena merasa hampir dibunuh oleh pemerintah setempat lantaran urung diberikan kerjasama.
Salah satu pelaksana lokal Kota Depok berdomisili di Kecamatan Sukmajaya yang meminta identitasnya dirahasiakan mengurai ikhwal perusahaannya tidak pernah diberikan kegiatan oleh dinas teknis pada pemerintah setempat.
“Dua tahun saya dan beberapa rekan sesama pelaksana tidak pernah diberikan kerjasama kegiatan oleh dinas, baik PUPR ataupun Disrumkim dan lainnya,” kata narasumber, Kamis (21/5/2026).
Pelaksana tersebut juga menduga kondisi saat ini dipicu oleh muatan politis pemerintahan dimana saat ini Kota Depok telah berubah zaman dari rezim PKS atau Partai Keadilan Sejahtera.
“Harusnya sih jangan bawa-bawa muatan politik kedalam urusan pekerjaan konstruksi. Kami cuma cari makan untuk anak istri kami kok, masa dijegal seperti ini,” ujarnya.
Disinggung mengenai tragisnya nasib pelaksana lokal, Ketua Jaringan Pemerhati Anggaran dan Akuntabilitas Warga (Jari Pandawa), Gita Kurniawan angkat bicara.
Gita tidak menampik kondisi saat ini terhadap pelaksana lokal di Kota Depok sarat akan kepentingan politik. Namun yang lebih jauh dari itu, Gita menyinggung sedikit tentang keberadaan Kontraktor Pelaksana yang diduga menjadi “maestro” dalam memonopoli Proyek bernilai besar di Kota Depok.
Bukan hanya tentang proyek raksasa, Gita juga membeberkan sejumlah fakta tentang beberapa pelaksana yang tiap tahunnya mendapatkan kegiatan dari dinas dengan jumlah yang fantastis.
“Saya rasa sudah rahasia umum bahwa Pelaksana Sirait merupakan maestro proyek raksasa bernilai miliaran, seperti dia yang monopoli proyek yang ada di Kota Depok,” pungkasnya. (Guntur Bulan).



