Eksekutif dari Depok Bagian Barat

Share

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Oleh: Qori Hatmalina, Anggota DPRD Kota Depok Fraksi Gerindra

Depok |suaradepok.com  Tepat 27 tahun Kota Depok, sudah pantas disebut sebagai kota dewasa. Ragam perjalanan Depok sebagai kota penyangga ibu kota rasanya kurang lengkap jika membahas tentang sosok eksekutif setiap periode.

Selama ini, Kota Depok selalu dipimpin oleh tokoh dari wilayah timur kota. Selain Badrul Kamal, Nurmahmudi Ismail berasal dari Cimanggis, kemudian Mohammad Idris dari Cilodong dilanjut Supian Suri yang sama asalnya dengan Mohammad Idris.

Enam wakil mereka pun berasal dari wilayah yang sama, Depok bagian Timur. Lalu kemana peran wilayah barat di Kota Depok? Apakah tidak ada tokoh mumpuni di area Sawangan dan Bojongsari , atau Cinere untuk memimpin Kota Depok?

Sebagai masyarakat asli Kecamatan Sawangan, saya menilai perlu adanya pemerataan baik dalam kebijakan maupun pembangunan, sehingga Margonda Centris bisa terhapus dengan meratanya pembangunan empat sisi Kota Depok.

Bisa dibilang, saat ini Depok masih terfokus dengan Margonda meski bukan mengucilkan daerah lainnya seperti Cipayung, Limo dan Cinere serta Pengasinan yang ada di Kecamatan Sawangan.

Pada momen awal ini, saya masih yakin banyak yang belum sadar mengapa pemimpin tertinggi Kota Depok tidak pernah berasal dari wilayah Depok bagian barat.

Dalam berbagai informasi, dikabarkan penataan ulang Kota Depok kini dimulai dari Wilahah Kecamatan Tapos, meski menyisakan berbagai macam pekerjaan rumah (PR) pembangunan di sejumlah wilayah seperti Cinere dan Beji.

Saya sebagai dewan dari daerah pemilihan Cipayung, Sawangan dan Bojongsari berharap kedepan ada pemimpin yang berasal dari wilayah Depok bagian barat, entah itu Sawangan ataupun Bojongsari.

Jika D1 dari wilayah Depok bagian timur, minimal D2 berasal dari barat, agar ide dan fokus pembangunan Kota Depok bisa lebih terfokus pada pemerataan, bukan cuma satu atau dua sisi.

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengkritisi pemerintah, bukan, sama sekali bukan. Saya hanya ingin membuka pandangan pembaca jika pembangunan berkelanjutan hanya bisa dilakukan jika semua bergandengan tangan.

Pemerataan juga akan terjadi jika pemimpin tertinggi pengambil kebijakan berada atau berasal dari dua ruas yang ada, sehingga sisi utara dan selatan bisa lebih mudah digapai.

nb: tulisan ini telah mengalami proses editing redaksi

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Read more

Pos Terkait