DEPOK | suaradepok.com– Jagat media sosial dihebohkan dengan aksi protes keras dari penulis buku ternama asal Kota Depok, Ahmad Bahar. Melalui sebuah unggahan video di akun media sosial pribadinya, Ahmad meluapkan emosi sekaligus menyindir keras oknum pejabat yang diduga melarang peredaran buku hasil karyanya.
Sembari menunjukkan tumpukan buku yang telah selesai dicetak, Ahmad mengecam keras tindakan pelarangan tersebut. Ia menilai pihak yang melarang tidak bisa membedakan antara produk jurnalistik dan sebuah opini.
“Woi pejabat! Ngapain ngelarang-ngelarang buku saya? Saya ini penulis! Kamu gak bisa bedain antara berita dan opini? Penulis itu bukan menulis berita. Masa menulis nama tokoh kemudian dilarang-larang?” cetus Ahmad Bahar dengan nada tinggi dalam video tersebut.
Ahmad juga menyindir tindakan represif tersebut yang dinilainya sudah tidak relevan dengan kondisi negara saat ini. Ia mengingatkan bahwa Indonesia telah lama meninggalkan masa-masa pembungkusan karya.
“Ini udah zaman reformasi, bukan Orde Baru! Kok bisa-bisanya ngelararang? Enggak ada solusi?” tegas Ahmad.
Selain memprotes pelarangan buku, Ahmad mengungkapkan kekecewaannya karena video-video penjelasannya juga dipaksa untuk dihapus (take down). Ia pun mempertanyakan nasibnya sebagai seorang penulis jika ruang karyanya terus dibatasi.
“Kalau saya penulis enggak boleh nulis, terus saya harus ngapa? Jadi tukang ojek? Saya ini penulis! Bukan tukang ojek! Nulis pakai otak, bukan pakai dengkul!” ujarnya.
Pelarangan ini diakui Ahmad membawa kerugian materi yang sangat besar bagi dirinya. Sebab, seluruh biaya pencetakan buku-buku tersebut dikeluarkan dari kantong pribadinya sendiri.
“Nih, bukunya segini sebanyak ini nih! Emang nyetaknya pakai daun? Ini duit, Bro, ini duit! Segini banyak nih duit! Sekarang kalau bikin buku enggak boleh, terus saya bikin apa? Ini nyetaknya pakai duit,” keluh Ahmad sembari memperlihatkan tumpukan karyanya.
Di akhir videonya, Ahmad mengaku sangat terzalimi oleh keputusan sepihak tersebut. Karena tidak tahu lagi harus melapor ke mana, ia akhirnya menyampaikan pesan dan peringatan terbuka kepada pihak-pihak yang telah merugikannya.
“Saya mau ke mana lagi lapor? Kepada Tuhan. Tuhan… kutuk orang yang melarang buku saya beredar! Saya ngomong serius, saya merasa terzalimi. Saya kasih waktu Anda. Kalau masih ngelarang buku saya lagi, saya kasih waktu Anda. Doanya orang terzalimi… luar biasa!” Ungkapnya.
Saat dikonfirmasi pada Minggu (17/5/2026), Ahmad Bahar membenarkan kejadian tersebut dan menyebut apa yang dialaminya sebagai ‘nasib apes’ yang sangat merugikan. Pelarangan edar ini memukul telak finansialnya. Pasalnya, Ahmad tidak hanya bertindak sebagai penulis, melainkan juga modal mandiri untuk membiayai seluruh proses cetak buku tersebut.
“Ternyata orang apes itu tidak hanya dialami sopir taksi yang tertabrak kereta Argo Bromo. Seorang penulis bisa juga mengalami hal yang sama,” ungkap Ahmad.
Ia menambahkan, pelarangan ini membuat peluangnya untuk mendapatkan penghasilan dari karya tulis menjadi pupus. Akibat tidak adanya solusi atau jalan keluar dari pihak terkait, ia akhirnya memilih untuk bersuara dan berkeluh kesah di berbagai platform media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Facebook.
“Karena penulis juga sekaligus yang biayai cetak buku, jadi rugi besar, ratusan juta. Itulah apes yang sebenarnya,” pungkas Ahmad. (Guntur Bulan)



