suaradepok.com | SERANG — Suasana aula pertandingan Kejurnas Catur ke-51 di Kota Serang perlahan mulai lengang. Sebagian besar jam catur telah dimatikan, dan deret papan catur sudah dirapikan. Namun di satu sudut ruangan, ketegangan justru berada di puncaknya.
Dua pasang mata masih menatap tajam petak 64 kotak hitam-putih. Di satu sisi, duduk Jessen Michael Aji, pecatur muda berbakat asal Kota Depok yang membela kontingen Jawa Barat di kategori Kelompok Umur (KU 13). Di hadapannya berdiri benteng tangguh bernama Master Percasi Alexander Philip Kurniawan.
Laga pamungkas babak kesembilan itu menjadi laga terlama di seluruh arena Kejurnas, memakan waktu hingga 4 jam 45 menit. Jessen, yang sempat berada dalam posisi tertekan dan hampir kalah, pantang menyerah. Dengan ketenangan luar biasa, ia perlahan membalikkan keadaan hingga akhirnya mengunci kemenangan manis.
Raihan poin akhir Jessen menyentuh angka 7,5—sama persis dengan raihan sang peraih medali emas asal Banten, Edison Maxy Wiryanto. Namun, takdir dan hitungan tipis tie-break Solkoff menempatkan Jessen di tangga kedua, membawanya pulang dengan medali perak.
Dukungan Tanpa Lelah dari Tepi Lapangan
Bagi sang ayah, Budiaji Suryawijaya, medali perak yang melingkar di leher putranya menyisakan rasa haru mendalam. Budi, yang tak pernah absen menemani Jessen berlatih maupun bertanding di berbagai tempat, menyaksikan sendiri betapa habis-habisan perjuangan sang buah hati.
“Jessen bertempur habis-habisan. Membalik keadaan dari posisi kalah menjadi menang di babak terakhir itu luar biasa,” tutur Budi dengan nada penuh kebanggaan bercampur haru.
Rasa puas juga terpancar dari pelatih tim catur Depok, Sufery. Pria kalem berkacamata ini menilai raihan Jessen sudah melebihi ekspektasi, mengingat peta persaingan sangat ketat, terutama dari kontingen DKJ Jakarta yang turun dengan kekuatan penuh.
“Perjuangan Jessen sudah maksimal. Di ajang ini ia sangat fokus mempelajari setiap pola pembukaan lawan,” ungkap Sufery.
Inspirasi Pembinaan Catur Kota Depok
Keberhasilan Jessen tak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menyuntikkan semangat bagi rumah tempatnya bertumbuh: Percasi Kota Depok.
Ketua Umum Percasi Kota Depok, Abdul Rahman—yang akrab disapa Abra—menyambut hangat torehan prestasi atlet mudanya tersebut. Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kerja keras Jessen, Percasi Depok memberikan penghargaan berupa tabungan senilai Rp1 juta.
“Ini bukti nyata bahwa pembinaan rutin yang dilakukan pengurus dan klub-klub catur di Kota Depok membuahkan hasil,” ujar Abra sumringah.
Meskipun capaian umum kontingen Jawa Barat di Kejurnas tahun ini terbilang menurun—menempati peringkat kelima nasional dengan 2 emas, 3 perak, dan 1 perunggu—semangat pembinaan di tingkat daerah tak boleh padam.
Kini, fokus dan tatapan mata Jessen serta para atlet Depok lainnya tertuju pada helatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jabar 2026 yang akan berlangsung pada 7–20 November mendatang di Bekasi, Bogor, dan Depok. Dengan sembilan atlet yang diterjunkan, Percasi Depok membidik target dua medali emas.
Langkah Jessen di arena Kejurnas Serang mungkin telah usai, namun bagi pecatur muda ini, perjalanannya menguasai papan catur Indonesia baru saja dimulai. (Guntur Bulan)

