Nuroji: Menghidupkan Kota Lewat Nada dan Budaya, Asa Baru Seniman Depok Bersama PAPRI

Share

MARGONDA | suaradepok.com—Geliat seni dan budaya di Kota Depok terasa kian bergairah. Kehadiran berbagai wadah kesenian kini menjadi energi baru bagi para seniman lokal untuk terus berkarya dan memperkenal ikon budayanya ke khalayak luas.

Dukungan hangat tersebut salah satunya disampaikan oleh Ketua Dewan Kebudayaan Depok (DKD), Nuroji, saat menghadiri pelantikan pengurus Persatuan Artis Penyanyi dan Pencipta Lagu Republik Indonesia (PAPRI) Kota Depok. Menurutnya, kehadiran PAPRI kian melengkapi ekosistem kesenian yang sebelumnya sudah semarak dengan berbagai komunitas seni, seperti PASKI di ranah komedi, PANDI di musik dangdut, hingga ratusan sanggar tari dan sastrawan lokal.

“Budaya itu ikon kota sebetulnya. Dengan seringnya acara, dari Lebaran Depok sampai pementasan wayang golek, Kota Depok jadi lebih hidup. Sekarang kita lebih bebas berkreasi, yang penting tetap sopan dan berlandaskan regulasi,” ujar Nuroji, usai hadiri pelantikan PAPRI Kota Depok. Senin, (3/8/2026).

Tak hanya seni pertunjukan dan musik, Nuroji juga menyimpan asa besar bagi geliat seni rupa di Depok. Menurut pandangannya, potensi sumber daya manusia (SDM) di Depok sangat serba bisa. Ke depan, ia mendorong agar para pelukis Depok dapat berkumpul dan lebih rutin mengelar pameran.

Qori Hatmalina, Ketua PAPRI Kota Depok (tengah kacamata hitam) saat berfoto bersama. (Gubul)

Di samping itu, Anggota Komisi IX DPR RI ini juga membeberkan kunci utama keberlanjutan budaya terletak pada empat pilar pemajuan kebudayaan adalah melestarikan, membina, mengembangkan, dan memberikan apresiasi. Ia berpesan agar para seniman senior tak ragu mewariskan ilmu dan mengkader generasi muda.

Mengenai peran Dewan Kebudayaan Depok (DKD) sendiri, Nuroji menegaskan bahwa lembaga yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) ini berfokus pada fungsi advokasi dan penyambung aspirasi seniman kepada pemerintah daerah.

DKD bertugas menyinkronkan kebijakan, memfasilitasi kebutuhan komunitas, hingga memperjuangkan kenaikan anggaran kebudayaan agar para seniman tidak lagi terbeban menanggung modal pertunjukkan secara mandiri.

“Fokus DKD bukan sekadar bikin pertunjukan, tapi mengedukasi, mengelaborasi, dan membela kepentingan para seniman. Kalaupun nanti berkolaborasi membuat pagelaran bersama PAPRI atau komunitas lain, tentu kami sangat terbuka,” pungkasnya. (Guntur Bulan)

 

Read more

Pos Terkait