DEPOK | suaradepok.com
Pemerintah Kota Depok menuai kritik tajam dari masyarakat terkait kontrasnya penggunaan anggaran daerah. Perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-51 Wali Kota Depok, Supian Suri, yang digelar mewah dinilai melukai hati warga di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada fasilitas ibadah di Masjid Balai Kota.
Warga Depok, Gita Kurniawan, menyuarakan kekecewaannya atas perayaan HUT ke-51 Wali Kota Depok, Supian Suri, yang dinilai tidak etis dan terlalu megah. Acara tersebut disorot karena dilakukan di saat masyarakat sedang menghadapi kesulitan ekonomi dan adanya pemangkasan drastis anggaran takjil di Masjid Baitul Kamal, Balai Kota Depok.
” banyak warga mengaku pada saya merasa kecewa setelah melihat di medsos. Betapa ramai acara ulang tahun pak walikota,” kata Gita, Sabtu, 1/3.
Gita Kurniawan menyebut kemewahan tersebut telah melanggar etika kepemimpinan karena tidak menunjukkan empati terhadap kondisi warga yang kesulitan secara finansial.
Berdasarkan informasi dari salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) yang enggan disebutkan identitasnya, mengungkapkan estimasi biaya perayaan ulang tahun tersebut mencapai angka yang fantastis. Ia menafsir acara tersebut diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 500 juta atau setengah miliar rupiah.
“Kalau lihat acara ini paling tidak 500 jutaan habis, setengah miliar lah yah. Dulu saya sering terlibat di acara seperti ini,” ungkapnya.

Kritik semakin memanas setelah warga membandingkan kemewahan acara tersebut dengan kebijakan efisiensi di Masjid Baitul Kamal. Novli Siregar, seorang jemaah rutin, mengungkapkan penurunan kualitas pelayanan buka puasa tahun ini dengan tahun Sebelumnya dengan meyediakan nasi box dan snack box senilai Rp 25.000 untuk 100 orang. Sedangkan saat ini hanya tersedia snack box sederhana (lontong, gorengan, air mineral) senilai Rp 6.000 dengan kuota yang dipangkas menjadi 50 box.
“Efisiensi hanya berlaku buat takjil buka puasa, tidak dengan ultah wali kota,” tegas Novli.
Kabar mengenai kemegahan acara ini viral di media sosial setelah beberapa akun mengunggah suasana keramaian pesta tersebut, yang kemudian memicu reaksi negatif dari netizen dan masyarakat lokal yang merasa kecewa atas prioritas penggunaan anggaran tersebut. (Guntur Bulan)











