Tanpa Petugas Lalin, Proyek Drainase Proklamasi Makan Setengah Jalan, Pengendara Waspada

Share

DEPOK | suaradepok.com — Di bawah terik matahari pagi yang bersinar pada Senin pagi, Jalan Proklamasi, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok yang biasanya ramai lalu lalang kendaraan bermotor dan pejalan kaki kini tampak berubah wajah. Sisi jalan yang sempit itu kini terasa semakin sempit, karena proyek pembangunan saluran air atau drainase yang sedang berjalan telah mengambil alih hampir setengah bagian badan jalan, meninggalkan sisa ruang lintas yang pas-pasan dan penuh potensi bahaya bagi setiap orang yang melintasinya.

Pantauan langsung di lokasi pada Senin (17/8/2026) memperlihatkan tumpukan tanah galian berwarna kemerahan yang gundukan material bangunan tertata seadanya di tepi jalan yang sedang digali. Tanah dan puing-puing itu tidak hanya menempati bahu jalan, melainkan menjorok jauh ke area lintas kendaraan, sehingga menyisakan jalur lewat yang sempit dan tidak ada pagar pengaman yang kokoh, tidak ada papan peringatan yang terang benderang, dan yang paling mencolok, tidak satupun petugas pengatur lalu lintas maupun petugas pengawas yang tampak berjaga di sepanjang area pekerjaan.

Kendaraan roda dua harus dengan sangat hati-hati, menepis ke pinggiran parit yang belum dipasangi pelapis, sementara kendaraan roda empat harus berjalan sangat lambat dan menunggu giliran untuk melewati jalur.

Kekhawatiran semakin memuncak bukan hanya karena jalan yang menyempit, melainkan karena kondisi tanah galian yang terbuka begitu saja tanpa penutup atau penahan. Jika hujan turun, tanah itu akan meluruh, bercampur dengan air hujan, dan mengalir meluas menutupi permukaan jalan menjadi lapisan lumpur yang licin dan berbahaya.

Grace, salah satu pengendara yang setiap hari harus melintasi jalan ini, menyampaikan rasa cemasnya saat berhenti sejenak di lokasi. Matanya menatap tajam ke arah tumpukan tanah di pinggir jalan.

“Pasti bahaya sekali, apalagi kalau hujan turun. Tanah galian itu akan hanyut ke jalan, bercampur air, lalu jalan jadi licin sekali. Bisa saja pengendara terpeleset dan jatuh,” ucapnya dengan nada khawatir.

Menurut Grace, pekerjaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok ini seharusnya tidak hanya berfokus pada penyelesaian fisik bangunan semata, tetapi juga wajib menjamin keselamatan pengguna jalan selama proses pengerjaan berlangsung.

“Setahu saya, setiap proyek yang memakan badan jalan wajib memiliki petugas yang mengatur lalu lintas dan mengawasi situasi di sekitar lokasi agar tidak terjadi kecelakaan. Tapi di sini, kami tidak melihat ada pengawasan sama sekali. Semua pengendara harus berjuang sendiri melewati bahaya itu,” tegasnya.

Ia pun meminta agar Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) segera turun tangan, mengevaluasi, dan mengambil langkah tegas terhadap pelaksanaan proyek ini. Jangan sampai keamanan dan keselamatan warga diabaikan begitu saja.

“Pemerintah harus hadir dan mengawasi langsung pelaksanaannya. Jangan menunggu sudah ada korban yang jatuh dan terluka baru pemerintah datang bereaksi. Itu sudah terlambat,” tandas Grace dengan suara yang berisi harapan sekaligus teguran.

Kekhawatiran serupa turut disampaikan Ica, pengendara lain yang juga kerap melintas di jalan tersebut. Ia menunjuk ke arah batu-batu kecil dan gumpalan tanah yang berserakan di sepanjang jalur lintas yang tersisa. “Menurut saya ini sangat berbahaya. Material bangunan dan tanah galian berserakan di mana-mana, membuat permukaan jalan tidak rata dan licin. Sangat mudah terjadi kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang melintas dengan kecepatan biasa tanpa menyadari bahaya di depan mata,” ujar Ica sambil menyingkirkan batu kecil yang menghalangi jalurnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum tampak adanya perbaikan pengamanan atau penambahan petugas pengatur lalu lintas di lokasi proyek. Para warga dan pengendara yang melintas pun hanya bisa saling memperingatkan untuk tetap waspada, memperlambat laju kendaraan, dan berharap agar pihak berwenang segera mendengar keluhan ini, menata kembali pengamanan lokasi, dan memastikan keselamatan jalan raya tidak dikorbankan demi kecepatan penyelesaian proyek. (Guntur Bulan)

 

Read more

Pos Terkait