Sukmajaya – suaradepok.com
Sejumlah wali murid mengeluhkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025, pada Jalur Pencegahan Anak Putus Sekolah (Paps) yang berlangsung di SMA Negeri 3 Depok, Sukmajaya, Kota Depok, Kamis (10/7).
Adapun keluhan ini merujuk pada sistem yang dinilai kurang tepat sasaran, yang seharusnya ditargetkan kepada kalangan kurang mampu atau yang lebih membutuhkan, untuk mengenyam pendidikan secara gratis.
Salah satu wali murid, Dian mengatakan, anaknya tidak lolos pada Jalur Paps pada SPMB 2025 di SMA Negeri 3 Depok. Ia mengaku dari kalangan kurang mampu. Sedangkan tetangganya diterima di sekolah tersebut. Padahal menurutnya, tetangganya itu berasal dari kalangan yang sangat mampu.
“Saya bingung dengan sistem ini. Padahal saya dari kalangan orang miskin lho, tetapi anak saya tidak diterima. Domisilli pun juga tak jauh dari sekolah. Sedangkan tetangga saya yang kaya raya saja keterima di sekolah ini, dengan jalur yang sama,” ungkap Dian.
Menurutnya, Jalur Paps tersebut dinilai kurang tepat sasaran, yang di mana seharusnya ditargetkan bagi kalangan kurang mampu. Namun nyatanya, masih ada warga dari kalangan yang sangat mampu bisa lolos saat menempuh jalur tersebut.
“Ya menurut saya ini perlu ada evaluasi lagi ya. Karena menurut saya ini masih kurang tepat sasaran. Kasihan kalau orang-orang miskin seperti saya yang anaknya tidak keterima di SMA Negeri. Karena program-program seperti ini ya seharusnya menyasar orang-orang seperti saya,” kata Dian.
Menanggapi hal ini Ketua Panitia SPMB SMA Negeri 3 Depok, Sahid Yunianto mengatakan, Jalur Paps tersebut sudah dibuka sejak awal Juli, setelah ada Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Pada Jalur Paps ini ada empat kategori yang menjadi target sasaran sesuai keputusan gubernur. Pertama, siswa tidak mampu. Kedua, siswa bina lingkungan atau berjarak maksimal sekitar 1.200 meter. Ketiga, siswa korban bencana alam. Terakhir, siswa atau anak panti asuhan,” terang Sahid.
Berkaitan dengan alasan kenapa ada warga kurang mampu yang tidak lolos pada Jalur Paps tersebut, kata Sahid, hal itu bisa terjadi karena berbagai faktor. Bisa terjadi karena domisili atau jangkauan wilayah, karena memang keputusan sekolah lebih kepada jarak jangkauan calon siswa.
“Kuota di SMA Negeri 3 ada 132. Sekarang masih sedang berjalan pendaftaran Jalur Paps hingga Jumat (11/7),” beber Sahid.
Pada pendaftaran Jalur Paps yang tengah berlangsung itu, Sahid mengaku, keputusan sekolah lebih memprioritaskan berdasarkan jarak, sesuai perintah dari dinas terkait. Sehingga, tak menutup kemungkinan siswa kalangan mampu juga lolos pada tahap seleksi ini.
“Ini tidak terjadi di SMA Negeri 3 Depok saja ya. Dan ini diputuskan setelah rapat dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II,” tandas Sahid. (Guntur Bulan)