suaradepok.com | Depok – Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Yusfitriadi angkat suara perihal layanan transportasi Biskita yang belakangan memicu perhatian publik Kota Depok.
Ia katakan, model transportasi Biskita di Depok sama halnya dengan yang ada di Kota Bogor, sehingga dalam perjalanannya harus bisa dilihat bagaimana hasil dari moda transportasi yang telah menelan anggaran puluhan miliar tersebut.
“Tinggal kita lihat apakah dengan anggaran puluhan miliar yang telah dikeluarkan tersebut semakin membuat tatakelola transportasi semakin baik atau malah sebaliknya,” kata Yusfitriadi, Kamis (10/9/) lalu.
Yusfitriadi akui, di wilayah lain seperti do Kota Bogor, Biskita sama sekali tidak memberikan kontribusi yang konstruktif terhadap tatakelola transportasi di Kota Bogor.
Yusfitriadi juga jelaskan beberapa masalah yang muncul akibat Biskita, diantaranya yang pertama adalah membutuhkan anggaran pemeliharaan yang cukup besar.
“Bukan hanya sekedar mengadakan, namun harus dipikirkan anggaran pemeliharaan, karena bus kita di kota bogor sempat mangkrak dan tidak beroperasi,” ujarnya.
Sampai saat inipun katanya, masih terseok-seok operasinya. Jangan sampai pengadaan bus kita tersebut hanya untuk kepentingan proyek, bukan untuk kepentingan rakyat.
Kedua, skema korelasi dengan moda transporrasi yang ada (angkot). Sampai saat ini permasalahan di kota bogor tidak selesai, apakah bus kita akan menggantikan angkot atau menambah moda transportasi.
“Terlebih di Kota Depok, kondisi jalan masih semerawut. Jangan sampai armada moda transportasi ditambah, bahkan melalui bus kita yang besar, namun jalan tidak bertambah lebar atau tidak ada jalan alternatif. Sehingga berpotensi menambah masalah baru dalam tatakeloka transportasi masyarakat,” paparnya.
Yusfitriadi juga mempertanyakan untuk siapa Biskita diadakan, dimana yang membutuhkan transportasi itu adalah masyarakat kelas bawah atau masyarakat menengah.
“Tentu masyarakat kelas bawah. Kita sama-sama faham, operasi bus kita itu tidak mungkin menjangkau pelosok-pelosok, karena masalah akses jalan raya. Jadi saya rasa itu tidak sampai kepada masyarakat kelas bawah,” beber Yus, sapaan akrabnya.
“Sehingga yang akan memanfaatkan bukan masyarakat kelas bawah, tapi masyarakat kelas menengah. Sehingga nasib masyarakat kelas bawah tidah pernah bisa merasakan secara optimal kehadiran bus kita ini,” pungkasnya. (Guntur Bulan)

