DEPOK | suaradepok.com
Ditemui usai mengikuti acara Hari Pers Nasional (HPN) di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Depok, Kamis (12/2/2026), Ketua Partai Buruh Kota Depok, Wido Pratikno, S.H, yang dinobatkan piagam penghargaan kategori Inovator Kesejahteraan Buruh dan Harmoni Iklim Investasi oleh PWI Depok, mengemukakan pandangan penting terkait hubungan antara investasi dengan kesejahteraan buruh di kota tersebut.
Wido merupakan Ketua Executive Committee (Exco) Partai Buruh Kota Depok (2023-2025), sekaligus menjabat sebagai Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Depok. Ia dikenal luas konsisten menyuarakan aspirasi kaum buruh, petani, dan rakyat marginal, dengan menitikberatkan perjuangannya pada konsep negara sejahtera (welfare state) yang mencakup layanan kesehatan, lapangan kerja, dan pendidikan.
Menurutnya, kesejahteraan buruh dan investasi memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
“tentang kesejahteraan buruh itu tetap menyambung tentang investasi. Jika tidak ada investasi, maka buruh tidak bisa bekerja. Maka di saat buruh tidak bekerja, maka ekonomi Depok tidak akan tumbuh,” tegasnya.
Wido yang juga konsisten mengawal pembahasan Upah Minimum Kota (UMK) Depok namun tetap mengedepankan kondisi dunia usaha secara umum dan dialog produktif triparti, menekankan bahwa keberadaan investasi harus selalu dijaga dan didukung, terutama dengan peran aktif dari media massa di Depok. Ia mengimbau agar media dapat membantu mengawal perkembangan investasi di daerah, sehingga tidak terjadi banyak kasus perusahaan yang harus menutup operasional secara mendadak.
“Maka investasi yang ada tolong dikawal media di Depok. Janganlah kalau ini-ini tutup, tutup… kasihan buruhnya yang bekerja akhirnya ini nggak bekerja,” tambahnya.
Sebagai contoh, ia menyebutkan kejadian yang pernah terjadi pada perusahaan Sambel Bakar, di mana para pekerjanya tidak mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) maupun gaji yang menjadi hak mereka, tepat menjelang momen Lebaran yang sangat dinantikan. Ia juga mengingatkan akan potensi kasus serupa yang mungkin terjadi jika tidak ada tindakan cepat terkait sebuah pabrik kopi yang saat ini belum beroperasi.
“Contoh mohon maaf kejadian Sambel Bakar, akhirnya THR nggak dapat, gaji nggak dapat, padahal mereka mau Lebaran. Hari ini juga nanti ada kejadian lagi kalau nggak segera pabrik kopi itu dibuka, itu sudah ada sekitar kurang lebih 100 orang tidak bekerja dan nggak bakal dapat THR dan gaji untuk Lebaran,” ucapnya.
Dalam paparannya, Wido kembali menegaskan bahwa menjaga kelangsungan investasi di Depok bukan hanya soal perkembangan ekonomi semata, tetapi lebih jauh lagi tentang bagaimana menjamin kesejahteraan kaum buruh yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Inilah yang harus kita jaga, investasi di Depok ini tetap karena itu tentang kesejahteraan kaum buruh,” pungkasnya.
Dalam pembahasan lebih lanjut mengenai hubungan investasi dan buruh, Wido menekankan bahwa investasi merupakan faktor krusial bagi tersedianya lapangan kerja bagi para buruh serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di Depok.
Peran media, katanya, sangat penting dalam hal ini untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan perkembangan terkait investasi dapat berjalan dengan baik, tanpa mengorbankan hak dan kesejahteraan pekerja. Ia mengajak seluruh pihak, terutama media massa, untuk bersama-sama menjaga agar investasi di Depok tetap berkembang dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya para buruh yang bergantung pada adanya lapangan kerja dari perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Kota Depok. (Guntur Bulan)











