CILODONG, suaradepok.com – Adanya kejanggalan dalam proses lelang pembangunan gedung kantor Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Asasta (Kota Depok) di wilayah Barat dan Timur memperkuat dugaan adanya ‘cincai’ untuk memenangkan salah satu perusahaan yang sudah dijagokan sebelum proses lelang itu digelar.

Untuk pembangunan kantor itu menelan anggaran sebesar Rp 9 miliar. Dengan masing-masing pagu anggaran untuk di wilayah timur, pembangunan ada di Jalan Kejayaan, Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya Rp 4,6 miliar dimenangkan PT Bersinar Jasstive Mandiri, dengan nilai penawaran Rp 4.304.656.000 (empat miliar tiga ratus empat juta enam ratus lima puluh enam ribu rupiah).

Sedangkan di wilayah barat pembangunan terletak di Jalan Nusantara, Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, pagu anggarannya Rp 4,4 miliar, yang imenangkan PT Jolundra Putra dengan penawaran Rp 3.953.313.000 (tiga miliar sembilan ratus lima puluh tiga juta tiga ratus tiga belas ribu rupiah).

Kejanggalan pertama, adalah hanya ada peserta tunggal dalam masing masing tender itu. “Kuat dugaan udah plotingan itu, sudah diatur siapa yang bakal menang tender proyek di wilayah timur dan siapa yang bakal menang di wilayah barat itu,” ujar salah satu penggiat jasa kontruksi di Depok, BB, Selasa (31/3/2020) kepada suaradepok.com.

Kedua, BB menyoroti tidak diakomodirnya perusahaan lokal dan lebih memilih perusahaan di luar Depok. Padahal lanjut dia, ada banyak perusahaan jasa konstruksi yang memenuhi syarat klasifikasi memengah (M) di Kota Depok. Merujuk kepada Peraturan Walikota (Perwal) Depok Nomor 39 Tahun 2019 yang berfungsi untuk membatasi nilai maksimal tender berdasarkan klasifikasi perusahaan yaitu untuk perusahaan kecil (K) nilai tender maksimal Rp 2,5 miliar, perusahaan menengah (M) nilai tender maksimal Rp 10 miliar dan perusahaan besar (B) nilai tender di atas Rp 10 miliar.

“Perwal ini kan setingan untuk memuaskan kerakusan Pemerintah Kota Depok dan kroni-kroninya untuk mengendalikan siapa yang menang tender di semua lelang, termasuk lelang PDAM. Ini dasarnya,” tandasnya.

Yang ketiga untuk syarat personil, tim Pokja PDAM memasukkan Sertifikasi Keahlian (SKA) Utama sebagai salah satu syarat yang harus di miliki perusahaan pada lelang tersebut. Padahal sambung dia, untuk klasifikasi tender dibawah Rp 10 miliar hanya dibutuhkan SKA Muda.

“Sekarang Pokja PDAM buka-bukaan aja, biar jelas. Di Perpres kan udah ditentukan untuk nilai lelang Rp 10 miliar ke bawah cukup dengan syarat SKA Muda, lalu kenapa Pokja PDAM memasukkan persyaratan SKA Utama?,” tegasnya.

“Itu salah satu modus plotingannya, biar kontraktor yang mereka inginkan yang menang. Kalau kontraktor dorongan mereka kalah, biasanya di tender ulang, mau berapa pun yang masukin penawaran, ngga peduli meraka. Udah parah,” katanya menambahkan.

Dirinya tak menampik jika setiap plotingan proyek seperti di atas sarat dengan pungli yang dikenal dengan istilah komitmen fee. “Udah ngga aneh lagi, itulah permainan seni tingkat tinggi PDAM Kota Depok,” terangnya.

“Makanya susah di OTT. Sudah kongkalikong semua mereka. Corp Adhyaksa jangan tutup mata,” katanya menambahkan.

Dijelaskan dia bahwa proses lelang tersebut telah menciderai semangat persaingan bisnis yang sehat di Kota Depok. Untuk itu, BB berencana melaporkan hal ini ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Karena diduga adanya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam dua paket tender PDAM yang kedua pemenangnya di umumkan di waktu yang bersamaan yakni 21 Januari 2020 itu.

“KPPU harus turun menyelidiki kasus ini. Apalagi infonya orang yang sama, yang memenangkan dua tender berbeda itu,” katanya.

Sementara itu, dugaan adanya ‘cincai’ di sejumlah proyek lelang PDAM bisa terlihat dari buruknya hasil pekerjaan. Diantaranya,
banyak kasus ditemukan pipa bocor pada jaringan distribusi PDAM. Bahkan kebocoran terjadi padahal masih dalam masa pemeliharaan.

Salah satu contoh pemasangan pipa distribusi di Bojongsari senilai Rp 9,6 miliar pada 2017 lalu, dimana sudah 3-4 kali terjadi bocor pada pipa distribusi PDAM Bojongsari, khususnya yang menuju Perumahan Green Land dan di jalan masuk Perumahan Panorama Residence, Cinere.

Kemudian, pipa distribusi Jalan Citayam-Margonda juga sering terjadi bocor. Jaringan distribusi yang dibangun pada 2018 itu, tercatat sudah 3 kali bocor, yaitu di depan Mago City, dekat Jalan Raya Depok Lama dan di dekat putaran UI Jalan Raya Margonda.