Kantor PDAM Tirta Asasta di Jalan Legong Raya No. 1 Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok

Sukmajaya, suaradepok.com – Panitia seleksi (Pansel) pemilihan calon Direktur Utama PDAM Tirta Asasta Kota Depok telah mengantongi sembilan nama yang lolos dalam seleksi administrasi awal.

Ke-9 nama calon Dirut PDAM Tirta Asasta periode 2020-2025 itu antar lain : Ade Dikdik Isnandar, Aep Saepuloh, Asep Wardana Wahyu, Mochamad Hatta Sukarno, Mohamad Syaiful Bahri, Muhammad Olik Abdul Holik , Osman Ritanto, R Joko Sarjanoko, dan Sudirman.

Jika diperhatikan dengan seksama, dari ke-9 nama calon nama Dirut yang lolos seleksi awal, masih terlihat nama Muhammad Olik Abdul Holik.

M. Olik merupakan mantan Dirut PDAM Tirta Asasta Kota Depok periode sebelumnya, yakni masa bhakti 2015-2020.

Meski selama kepemimpinannya dinilai gagal dalam menjalankan tugas, namun M. Olik tetap terlihat mengikuti seleksi pemilihan calon Dirut PDAM untuk masa bhakti berikutnya (2020-2025).

Selain dinilai gagal dalam menjalankan tugas-tugas yang diemban, kabarnya cara kepemimpinan M. Olik juga sering dikeluhkan oleh jajaran direksi di PDAM Tirta Asasta.

Berdasarkan informasi yang diterima tim Jaringan Berita Kota Depok (JBKD Grup), jajaran direksi di PDAM sering mengeluhkan cara kepemimpinan M. Olik yang dianggap sewenang-wenang dalam mengambil suatu kebijakan.

“Info yang saya terima, selama kepemimpinan M. Olik, banyak jajaran Direksi di PDAM Tirta Asasta yang mengeluh. Salah satunya adalah terkait masalah kebijakan dan segala sesuatu yang menyangkut dengan masalah perencanaan kegiatan dan pengadaan di PDAM yang selalu diambil alih oleh M. Olik tanpa persetujuan dari direksi yang bersangkutan. Pokoknya semua mau ditangani sendiri sama pak Olik”, ujar sumber yang namanya enggan dipublikasikan, Minggu (17/5/2020).

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok, Hardiono menilai bahwa Panitia seleksi pemilihan calon Dirut PDAM Tirta Asasta kurang jeli dalam melihat rekam jejak dari para calon peserta.

Padahal sudah jelas bahwa selama kepemimpinan, M. Olik dinilai gagal dalam menjalankan tugas yang diemban. Tetapi pada saat tahap seleksi, dia bisa lolos.

“Saya juga heran, tetapi barusan saya sudah tegur panselnya”, ujar Hardiono seperti dilansir suaradepok.com dari wartadepok.com.

Terpisah, Dewan Pengawas PDAM Tirta Asasta yang saat ini menjabat sebagai Pjs. Direksi PDAM, Banu Muhamad Haidlir juga mengaku tidak tahu menahu terkait lolosnya nama M. Olik karena kewenangan tersebut ada di Pansel yang ada di bagian Ekonomi pada Asisten Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Sekda Depok.

“Saya juga tidak tahu. Mungkin bisa ditanyakan langsung ke Panselnya karena saya bukan bagian dari panitia seleksi”, ujar Banu.

Berdasarkan informasi yang dirangkum suaradepok.com, menyebutkan bahwa selama lima tahun kepemimpinan M. Olik (2015-2020), Pemerintah Kota Depok telah mengalokasikan dana penyertaan modal untuk PDAM Tirta Asasta sebesar Rp 499 miliar.

“Dari total dana tersebut, hanya tinggal Rp 74 miliar lagi yang belum dicairkan oleh PDAM. Artinya, alokasi dana itu sudah digunakan sebanyak Rp 420 miliar atau 75 persen dari total dana penyertaan yang dialokasikan Pemkot,” kata Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Depok, Nina Suzana.

Dana penyertaan modal itu digelontorkan Pemkot Depok untuk mendukung kinerja PDAM Tirta Asasta agar dapat mencapai target RPJMD, yakni sambungan langganan (SL) sebanyak 30 persen penduduk Kota Depok atau 100. 100 SL serta untuk menanggulangi permasalahan air bersih sebesar 25 persen.

Namun hingga masa jabatan M. Olik berakhir, target yang diberikan tidak dapat dipenuhi.

SL hanya bertambah 15.000 atau hanya 17 persen dari target 100.100 SL meski dana yang dicairkan sudah mencapai Rp 420 miliar.

(Penulis : M. Ferry Sinaga)