SUARADEPOK.COM  Demonstrasi yang kerap digelar belakangan ini ternyata belum surut, sebagai bukti bukan hanya momentum belaka. Hal ini dilihat dari adanya ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO) Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan terlihat melakukan aksi siang ini.

Tidak hanya mahasiswa, mereka melakukan aksi konvoi bersama ratusan masyarakat lainnya yang terdiri dari Forum Solidaritas Masyarakat Petani Cilangkap (FSMPC) Banten, Forum Masyarakat Perduli Desa Bawukan (FMPB) Klaten, Masyarakat Kampung Pancasila Lauser Jakarta Selatan, Masyarakat Register 45 Mesuji Lampung, Masyarakat Tulang Bawang Lampung, dan Masyarakat Pasir Serdang Pandeglang.

Menurut keterangan yang didapat, Mahasiswa dan Masyarakat akan melakukan konvoi menuju beberapa titik, diantaranya adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN), Mabes Polri, Polda Metro, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kostrad, Mabesad, Istana, Kemenkopolhukam, dan Kementerian Pertahanan.

Presidium KOMANDO Jaksel, Surya Hakim Lubis mengatakan, dia mengecam keras tindakan agresif dan represif POLRI yang mengakibatkan meninggalnya Mahasiswa dan Pelajar, serta ratusan Mahasiswa, Pelajar dan Masyarakat yang ditahan dalam melakukan aksi demonstrasi.

“Yang dimana tindakan represif tersebut menimbulkan citra buruk TRIBRATA yang jauh dari karakter Jendral Pol. Hoegeng.” katanya.

Surya melanjutkan, mengingat bahwa apa yang menjadi perjuangan Mahasiswa dan pelajar serta masyarakat dalam kegiatan aksi yang telah dilakukan hampir sepanjang bulan september 2019 sejatinya telah dilindungi oleh konstitusi.

“Terkhusus pada Pasal 28e UUD 1945 yang telah menjadi pijakan dasar untuk masyarakat dalam menyampaikan pendapat dimuka umum, Terlebih apa yang kita perjuangkan secara tegas adalah menolak segala bentuk peraturan dan RUU yang bertabrakan serta melenceng dari nilai Pancasila, karena mengingat Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah pintu kepastian Pancasila sebagai Hierarki Tertinggi.” lanjutnya.

Pernyataan sikap Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO) :

1. Mengawal penuh permasalahan hukum yang dialami oleh masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, yang diantara nya.

– Sengketa Masyarakat/Warga Lauser Kota Jakarta Selatan dengan Pemerintahan Provinsi D.K.I Jakarta.

– Sengketa Masyarakat/Petani Cilangkap Maja dengan PT. WKP di Kabupaten Lebak- Banten.

– Masyarakat Desa Marga Jaya dengan PT. LOTUS Bandung Barat-Jawa Barat.

– Pengembalian Aset Desa Bawukan, KLATEN yang diduga disalah gunakan oleh aparatur desa.

– Sengketa Masyarakat Desa Pasir Sedang dengan INHUTANI di Pandeglang, Banten.

– Kelestarian Sungai Cimoyan sebagai aktifitas warga 4 desa yaitu Desa Ciherang, Desa Kolelet, Desa Bungur Copang dan Desa Ganggeang di Pandeglang terancam limbah perusahaan tambang pasir putih di Kecamatan Banjarsari Lebak, Banten.

– Sengketa Buruh Tani masyarakat Desa Teluk Lada dengan perusahaan combain di Pandeglang, Banten.

– Kepastian status lahan masyarakat atas penggunaan PT. Gula Putih Mataram, PT. Sweet Indo Lampung, PT. Indo-Lampung Permai, PT. Indo Lampung Perkasa di Tulang Bawang, Lampung.

– Persoalan Agraria di Register 45 Mesuji–Lampung dengan PT. Silva INHUTANI.

2. Mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia untuk segera menyelesaikan segala permasalahan konflik Agraria yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

3. Mengingatkan bahwa aparatur negara yang dalam hal ini adalah POLRI, bahwa kalian memiliki sumpah yang dikenal sebagai TRIBRATA dan CATUR PRASETYA. Maka dari itu, kami mengecam Tindakan Represif aparat keamanan Republik Indonesia dalam pengamanan yang mengakibatkan ada nya korban luka dari Mahasiswa dan Masyarakat di seluruh wilayah Indonesia dalam peristiwa yang terjadi belakangan ini.

4. Menolak RUU Pertanahan/Agraria, RUU KUHP, UU KPK serta segala peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.